BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Absolutisme adalah suatu model
pemerintahan yang kekuasaan tunggalnya di pegang oleh pemimpin atau kerajaan,
dan dilakukan secara absolute otoriter. Dimana otoriter diartikan sebagai pemahaman
pemerintah yang berada di bawah satu tangan dengan kekuasaaan mutlak. Kekuasaan
tersebut tidak terbatas karena konstitusi yang diciptakan adalah ciptaan
penguasa tersebut. Pemerintahan ini berlangsung antara abad 16-18.
Pemerintahan absolute
merupakan gejala histories yang tidak muncul secara tiba – tiba, tetapi
memiliki latar belakang secara multidimensi. Realisasi dari pemerintahan ini
adalah eksploitasi terhadap kekayaan alam dan rakyat untuk kepentingan Raja,
Keluarga dan kelompok tertentu. Abad-abad gelap berlaku ketika rakyat Rusia
terpaksa hidup di bawah sistem feodal yang buas.
Tirani tsar yang
berkuasa menghubungkam seluruh perlawanan dengan mencambuki petani yang tidak
puas, menginterogasi dengan siksaan, memecat dan memenjarakan buruh-buruh yang
berontak, menghancurkan buku-buku yang ide-idenya dianggap berbahaya. Golongan
kapitalis memiliki jumlah lebih sedikit dibanding dengan golongan proletar.
Namun, kapitalis menguasai dan memimpin kaum proletar yang lebih banyak.
Runtuhnya feodalisme menyebabkan berkembangnya perdagangan Industri yang
menyebabkan petani banyak beralih ke perdagangan dan industri baik sebagai
buruh maupun alih profesi yang nantinya merupakan penyebab timbulnya
absolutisme di Negara-negara Eropa.
Munculnya gerakan
renaissance merupakan gerakan masyarakat secara global untuk kembali ke
kebudayaan Romawi, Yunani klasik yang memberikan kebebasan untuk berkuasa,
mengembangkan kemampuan akal dan tidak terbelenggu oleh dogma gereja. Raja di
jadikan sebagai penguasa tunggal. Sesudah pemerintahan absolute berlangsung di
Inggris dan Perancis, cara atau model itu segera menyebar keseluruh Eropa.
Sebagai Negara yang besar di Eropa segera mengadopsi model pemerintahan
tersebut. Tsar memerintah dengan perantaraan birokrasi yang kemudian menjadi
autokrasi, yang terdapat di segala bidang dengan kekuasaan yang mutlak.
Dari
penjelasan di atas, penulis akan menjelaskan Absolulisme di Negara-negara Eropa
lebih mendalam, khususnya di Negara Inggris, Perancis, Rusia, dan Austria.
1.2 Rumusan Masalah
1) Apa
pengertian Absolutisme?
2)
Bagaimana
Absolutisme di Negara Inggris?
3)
Bagaimana
Absolutisme di Negara Perancis?
4)
Bagaimana
Absolurisme di Negara Rusia?
5)
Bagaimana
Absolutisme di Negara Prusia?
1.3 Tujuan Penulisan
1)
Untuk mengetahui
pengertian Absolutisme;
2)
Untuk mengetahui
Absolutisme di Negara Inggris;
3)
Untuk mengetahui
Absolutisme di Negara Perancis;
4)
Untuk mengetahui
Absolurisme di Negara Rusia;
5)
Untuk mengetahui
Absolutisme di Negara Prusia..
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Absolulisme
Absolutisme merupakan jamak dari
kata absolute yang berarti mutlak,
sedangkan menurut Daryanto di dalam kamusnya “Kamus Bahasa Indonesia” bahwa
absolutisme dalam arti luas adalah bentuk pemerintahan tanpa Undang-Undang
Dasar, bentuk pemerntahan dengan semua kekuasaan terletak di tangan penguasa
(raja, kaisar, diktaktor, dll.).
Absolutisme adalah
suatu model pemerintahan yang kekuasaan tunggalnya di pegang oleh pemimpin atau
kerajaan, dan dilakukan secara absolute otorirer. pemahaman pemerintah yang berada di bawah satu tangan dengan kekuasaaan
mutlak. kekuasaan tidak terbatas karena konstitusi yang diciptakan adalah
ciptaan penguasa tersebut. pemerintahan ini berlangsung antara abad 16-18.
2. 2 Absolutisme di Negara Inggris
Hampir disetiap
negara Eropa, tidak terkecuali Inggris pada abad XVII dan XVIII cenderung
mengarah pada bentuk pemerintahan monarkhi absolut. Khusus di Inggris, proses
terbentuknya monarkhi absolut terjadi sekitar satu abad. Masa puncak
absolutisme di Inggris terjadi pada masa pemerintahan James VI, ketika ia
menggantikan saudara perempuannya, Elizabeth pada tahun 1603. Ratu Elizabeth
berasal dari keluarga Tudor yang tidak memiliki keturunan.
James VI adalah Raja
Skotlandia dari keluarga Stuart, yang sebagai Raja Inggris dikenal sebagai
James I. Timbulnya bentuk negara monarkhi absolut, digagas oleh orang-orang
Protestan abad XVI, menjadi negara sekuler yang diwakili oleh raja. Hak seorang
raja memerintah negara secara absolut dibenarkan dengan memakai teori politik
kenegaraan yang dinamakan divine-right of
kings atau hak ketuhanan raja-raja.
Kekuasaan raja
berasal dari Tuhan dan raja tidak bertanggung jawab kepada rakyatnya. Pada abad
XVIII, teori tersebut mengalami perubahan arti, meski istilahnya sama yakni
mengatakan bahwa sifat suci raja sebagai wakil Tuhan di dunia, harus berkuasa
mutlak tidak dapat diganggu gugat, termasuk hukum buatan manusia, siapa yang
menentang raja berarti menentang Tuhan.
Masa pemerintahan
raja-raja Struat yang telah menyusun monarkhi absolut mendapat reaksi keras
dari parlemen dan rakyat Inggris. Konflik antar raja dan parlemen terus
berkepanjangan, ternyata melahirkan terjadinya pergolakan, perang saudara
selama beberapa tahun, terjadi restorasi monarkhi, lahirnya Revolusi Inggris
yang lazim disebut dengan The Gloroius
Revolution pada tahun 1688, dan berakhirnya keluarga Stuart.
2.2.1. Masa Pemerintahan
James I (1603 – 1625)
Pada masa pemerintahan James I menduduki tahta kerajaan Inggris, ia
merupakan sosok seorang asing, tidak mengenal bangsa Inggris dengan
tradisi-tradisinya yang khas, hukum-hukumnya, fikiran-fikirannya serta
perasaannya. Dia berpandangan bahwa
keberadaan parlemen karena kemurahan hati raja. Parlemen tidak
memberikan kontribusi terhadap pemerintah. James juga percaya
bahwa keberadaannya adalah diatas hukum, dan ia juga menjadi ketua yudisial.
Apabila dewan yudisial maupun parlemen dianggap membuat suatu kesalahan dimata
raja, maka dengan mudah James I dapat mengganti atau menggeser kedudukan mereka
dengan orang lain.
1) Sikap/Tindakan James I
Pada awal masa pemerintahan James I telah memberi kesan buruk,
ketika di London pada waktu penobatannya,ia menjatuhkan hukuman mati bagi
seorang pencuri dengan dihukum gantung. Semestinya penjatuhan hukuman gantung
dilakukan oleh lembaga Yudisial. Proses keretakan mulai tampak pada awal
pemerintahan James I ketika kaum Puritan berusaha mendapatkan izin dari raja
agar mereka secara sah dapat melakukan praktek-praktek kegerejaan yang mereka
sukai, antara lain upacara keagamaan yang lebih diserdehanakan dan tekanan
kepada isi khotbah. Selain itu, mereka mengajukan usul bagi terjemahan baru
Kitab Injil.
Usulan kaum Puritan yang ingin menyederhanakan upacara-upacara yang
dilakukan Gereja dipahami oleh James I, bahwa mereka hendak menuju ke
semacaman Gereja Protestan seperti Gereja Presbyteria
di Skotlandia. Ia memiliki banyak pengalaman memerintah di Skotlandia dari
Gereja semacam itu, dan disamping itu ia berpendirian bahwa monarkhi absolut
tidak akan mungkin dapat di tegakkan tanpa suatu Gereja yang dipimpinnya
sendiri dengan dibantu oleh suatu monarkhi keuskupan. Meniadakan hirarki
keuskupan seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang gereja Presbyteria di Skotlandia dan lebih
memerlukan pada materi khotbah, menurut James I dapat membahayakan upaya dalam
menyusun bentuk pemerintahan monarkhi absolut. Maka, usulan kaum Puritan
tersebut ditolak oleh James I, kecuali usul terjemahan baru Kitab Injil.
Akibat penolakannya, ratusan kaum Puritan
dikeluarkan dari Gereja. Anglikan sebagai
Gereja orang-orang Inggris. Kebijakan pemerintah Inggris yang tidak populer itu
nantinya akan memerlukan sumber konflik dari kaum oposisi. Memang, alasan
penolakan James I terhadap usulan kaum Puritan lebih bersifat politis daripada
alasan keagaman.
Penerapan konsep the divene-right of kings dalam usaha
lebih memperkokoh kekuasaan raja, pada tahun 1616 James I memerintah
hakim-hakimnya untuk menyusun perturan-peraturan yang berisi soal-soal yang
berhubungan dengan rahasia keluarga raja yang tidak boleh dibahas dengan sah,
kerana hal itu dapat menunjukkan kelemahan raja dan menghilangkan hormat angker
yang menjadi milik serupa yang duduk di atas mahkota Tuhan.
Sikap politik James I yang tidak populer itu menyusun perselisihan antara
raja dan parlemen, terutama Majelis Rendahnya. Majelis rendah mulai
mempermasalahkan paham yang di anut oleh James I
melalui teorinya itu, yang diartikan bahwa ia menempatkan raja sebagai penguasa
tunggal di Inggris. Sebaliknya, parlemen Inggris merasa kekuasaan dan
kewenangannya telah ditelikung oleh raja. Berbagai alasan parlemen Inggris yang
mempermasalahkan “hak ketuhanan raja-raja” bertentangan dengan Magna Charta, hal itu mengakibatkan
tahun 1611 parlemen dibubarkan yang sebelumnya pada tahun 1604 pernah
dibubarkan oleh raja.
Selama tahun (1614 – 1621), James I memerintah tanpa parlemen dan
tahun 1621, parlemen disidang kembali kemudian dibubarkan. Pada
tahun 1624, terpaksa memanggil kembali parlemen untuk bersidang, kali ini raja
ingin meminta persetujuan serta dukungan guna melawan Spanyol sebagai musuh
lama Inggris, rencana itu akan segera dimulai.
Hal tersebut mendapat dukungan dari parelemen Inggris dan raja
ingin membantu Protestan Jerman yang terlibat dalam Perang Tiga Puluh Tahun (1618 – 1648 ) melawan Spanyol. Namun
hubungan baik dengan James I tidak menghalangi berbagai kritik terhadap raja
dan meneruskan perlawanannya atas kebijakan yang dilakukan selama masa
pemerintahannya termasuk ingin menghapus hak prerogratif raja. Selama masa
pemerintahnya, parlemen sama sekali tidak di fungsikan sebagai masa fungsinya,
berbagai hak dan wewenang parlemen telah ditiadakan. Pada tahun 1625, James I
meninggal dan dan mewariskan mahkotanya serta situasi yang merugikan kepada
putranya, Charles.
.
2.2.2. Masa pemerintahan
Charles I (1625 – 1649 )
Setelah kematian James I dalam tahun 1625 ia di ganti oleh putranya
Charles. Ia mengembalikan pengaruh Agama Khatolik ke Inggris melalui perkawinan
dengan putri Katholik Prancis, akibatnya sebagian rakyatnya tidak menyukai
bahkan membencinya. Bukti-bukti bahwa Charles I meneruskan berbagai kebijakan
ayahnya, dapat diketahui bahwa ia tetap mempertahankan asas divine-right of kings, dan sering
melanjutkan perselisihan dengan parlemen dan kaum Puritan, dan memerntah dengan
“orang-orang kesayangan” yang tidak bijaksana. Ia tidak memahami seluk beluk
Skotlandian serta rakyatnya yang juga adalah warganya.
Pada masa awal pemerintahannya, Charles I sudah terlibat
perselisihan dengan parlemen dengan alasan bahwa Majelis Rendah selalu menolak
usulan raja terutama menambah biaya untuk berperang mencari koloni,
masalah-masalah luar negeri, menetapkan besarnya biaya pajak, dan sebagainya.
Akibatnya, pada tahun 1625, Charles I membubarkan parlemen. Namun, raja kembali
memanggil parlemen untuk bersidang pada tahun 1628.
Dalam sidang tersebut di atas parlemen bersedia membantu usulan
raja tentang menambah subsidi kepentingan roda pemerintahan, asal raja mau
menandatangani Petition of Right yang
berisi :
1) Pemungutan besarnya
pajak harus sepengetahuan parlemen, agar tidak memberatkan rakyat.
2) Tidak memperbolehkan
menangkap sesorang kecuali dapat dijelaskan, dibuktikan kesalahannya dimuka
pengadilan.
3) Anggota-anggota
militer tidak boleh ditetapkan secara paksa di rumah-rumah penduduk.
Semula raja tersebut mau menerima petisi tersebut, tetapi ia sendiri melanggarnya. Ketika parlemen hendak melakukan
protes, karena pelanggaran raja terhadap petisi tersebut, raja membubarkan
dewan ini tahun 1629, ia berniat memerintah Inggris tidak menyertakan
keberadaan parlemen (1629 – 1640 ).
1) Tindakan Charles
I
Semasa pemerintahannya, Charles I banyak melakukan penindasan dan
tekanan politik, ekonomi dan agama. Ntekanan dalam bidang agama dirasa oleh
orang Inggris bahwa Charles I memberikan kekuasaan pada William Laud dosen
Universitas Oxford sekaligus menjadi uskup Agung Gereja Canterbury. William
Laud di beri wewenang untuk memaksakan keragaman dalam gereja Anglikan sesuai
dengan paham High Church Anglicanism, suatu
paham yang menghendaki praktek kegerejaan yang mirip dengan Gereja Khatolik,
dalam kegiatan kegerejaan upacara seremonial lebih dtekankan daripada materi
Khatolik.
Penindasan ini menyebabkan pertentangan agama yang semakin
meluasnya antara penganut High Church
Anglicanism, dengan penganut Puritanisme. Penindasan tersebut menjadikan
persoalan agama bercampur dengan masalah politik. Faham otoriter menjadi
persoalan tegaknya absolutisme, sedangkan faham yang di anut orang Puritan
condong kearah demokrasi dan menghendaki terjdinya toleransi beragama.
Konfik politik bercampur agama yang di sebabkan William Laud, mulai
berkobar di Skotlandia. Charles I tidak memahami Skotlandia maupun Inggris.
Parlemen di Inggris tidak dapat dikendalikan oleh raja seperti di Skotlandia
dan menguasai sepenuhnya Gereja Anglikan. Hal serupa hendak dilakukan terhadap
Gereja Presbyter di Skotlandia. Barang kali, Charles I menganggap Gereja
Prebyter serupa dengan Gereja Anglikan.
Penindasan Agama oleh Charles I mendapat reaksi keras dari rakyat
Skotlandia ketika ia akan menetapkan kekuasaan mutlaknya terhadap Gereja
Presbyter dan berusaha memaksakan ke dalam gereja itu sistem episkopal dan “Prayer book” seperti yang terdapat dalam Gereja Anglikan.
a)
Jalan menuju
perang-perang saudara (1638-1642)
Revolusi sebenarnya dimulai dari Skotlandia. Jika Charles I tidak
akan memaksakan kehendaknya menekan orang-orang Skotlandia dalam bidang agama,
barang kali ia akan mengalami kesulitian keuangan. Tahun 1638, bergabungklah
Orang Skotlandia yang tetap memperthankan kemurnian ritual dan perjanjian
orang-orang yang tetap mempertahankan Gereja Prebyterian melawan kekuasan
Charles I. Maka terjadilah pemberontakan Puritan tahun 1638 sebagai awal
terjadinya Revolusi Inggris, naun pemberontakan tersebut dapat dipadamkan.
Tahun 1639 Charles I bergerak ke Skotlandia untuk menguasainya, ia
terkendala oleh biaya dan militer. Penyerbuan ini sering disebut “bishops War” (Perang Uskup). Sementara
itu Charles I memanggil parelemen untuk melakukan persidangan untuk memperoleh
uang untuk membiayai perang melawan para Uskup di Skotlandia, ternyata usaha
raja tersebut sia-sia.
Tahun 1640 Skotlandia berperang lagi dengan Inggris. Mereka baru
akan meninggalkan perbatasan apabila raja bersedia membayar uang tebusan. Untuk
mendapatkan uang dan menyehatkan pkembali keuangan negara, Charles I terpaksa
menyidangkan Parlemen. Parlemen terkenal sebagai Long Parliament (Parlemen Panjang), karena berlangsungnya selama 20
tahun (1640-1660) dan memberi kesempatan yang telah di tunggu oleh negara
Inggris untuk mengorganisir perlawanan terhadap seorang raja absolut.
Jalan menuju Perang Saudara diawali ketika pada akhir tahun 1640
terjadi perpecahan kehidupan agama di Inggris. Golongan Puritan yang merupakan
mayoritas di parlemen belum puas dengan kemenangan politik yang telah dicapai,
dan masih bertekad melakukan pemberotakan dibidang agama. Mereka melakukan
serangan terhadap sistem episkopal dalam
Gereja Anglikan dan ingin menggantinya dengan sistem yang lebih mendekati
sistem Presbyter. Para anggota parlemen setia pada gereja anglikan tentu tidak
akan mendukung rencana ini.
Dalam situasi yang memanas, Charles I membuat satu kesalahan besar.
Januari tahun 1642 terjadi penyerbuan oleh 400 pasukan militer yang sebagian
merupakan pengawal raja datang ke gedung parlemen dengan maksud hendak
menangkap lima orang dari kelompok opsisi. Namun sebelumnya mereka telah
mengetahui rencana raja, sehingga mereka melarikan diri ke London. Jadi inseden
Juni 1642 ini, yang mencetus the Grand Remonstrance menyulut pecahnya
perang saudara di Inggris. Sebulan setelahnya, parlemen menyuarakan melawan
raja. Sejak saat itu Agustus 1642, pecahlah perang saudara di Inggris.
b) Perang Saudara : Eksekusi Charles I (1642
– 1649)
Perang saudara terjadi dimana pihak raja beserta para pendukungnya,
bersikukuh ingin mempertahankan monarkhi absolut dengan alasan teori hukum tuhan,
sedangkan parlemen menghendaki agar pemerintahan absolut diakhiri dan disusun
monarkhi konstitusional. Majelis Tinggi yang terdiri dari kaum bangsawan,
sebagian parlemen memihak raja.
Pihak parlemen merupakan pihak yang menentang raja, mereka itu terdiri
atas kaum Puritan yang sangat menderita ketika absolutisme benar-benar
dijalankan oleh keluarga Struat. Kaum menengah yang mendukung parlemen,
seperti, pedagang, pengusaha, produsen dikota. Para petani lebih memilih
netral, mereka tidak memihak raja maupun parlemen.
Perang saudara Inggris diawali Juni 1642, ketika raja menolak
permintaan parlemen untuk menyerahkan segala prerogative yang melekat pada
dirinya. Selama dua tahun perang saudara (1642-1644) tentara royalis unggul di
medan perang karena mereka telah terlatih dan memiliki banyak perwira yang cakap dan pengalaman.
Sementara itu pihak parlemen merasa kewalahan berperang melawan
pihak Royalis, berusaha meminta bantuan penguasa Skotlandia. Mereka akan
mengirim tentara, asal pihak parlemen Inggris berjanji akan menjadikan Gereja
Presbyter menjadi Gereja Nasional di Inggris. Trahun 1644 gabungan pasuka
parlemen dan Skotlandia berhasil memperoleh kemenanganyang pertama. Tahun 1645
parlemen mengadakan reorganisasi tentaranya dan menyebutnya “New Model Army” (Tentara Gaya Baru)
yang berintikan pasukan kavaleri. Kemenangan parlemen atas pasukan royalis yang
di pimpin Charles I, Chales I hendak meminta perlindungan kepada pasukan
Skotlandia, namun raja tidak di beri bantuan militer, Charles I di serahkan ke
parlemen Inggris menjelang akhir 1646.
Perang Saudara di Inggris tahap ke dua (1648). Dalam perang pertama
(1642-1646) terjadi permusuhan antara parlemen dan kaum Royalis, dalam perang
Saudara kedua terjadi persekutuan antara parlemen, kaum Royalis, dan orang
Skotlandia bersama-sama melawan New Model
Army pimpinan Oliver Cromwell.
Oliver Cromwell merasa dikhianati oleh parlemen dan ingin
menjadikan militer tentara profesianoal yang harus tetap menjaga keamanan
negara. Militer tidak mengabdi dan bukan alat kekuasaan yang dipermainkan oleh
penguasa, tetapi militer tetap setia pada rakyat dan negara.
Menjelang akhir tahun 1648, Oliver Cromwell menbersihkan orang
parlemen radikal sebanyak 60 orang. Agar parlemen menjalankan tugas dan
kewajibannya dengan baik.
Setelah perang selesai tahun 1648, negara dikuasai oleh Oliver
Cromwell beserta pasukannya. Ia menyetujui pembentukan mahkamah Rump Parliament untuk mengadili Charles
I. Keputusan mahkamah tidak diragukan rakyat Inggris, yaitu menjatuhkan hukuman
mati bagi Charles I, keluarga Struat.
2.2.3. Oliver Cromwell dan
Masa Transisi (1649 – 1660)
Inggris dibawah rezim Oliver Cromwell mengubah monarkhi menjadi
rebublik dengan bebagai nama organisasi. Tahun 1649 – 1660 di sebut sebagai
periode Transisi, Inggris tidak memiliki seorang Monarch (Raja). Selama masa
transisi di pimpin oleh Oliver Cromwell, dikukuhkan dengan deklarasi (Rump Parliament) yang berisi
tentang Inggris menjadi negara
Pesemakmuran tanpa keberadaan raja maupun House
of Lords pada awal tahun 1649.
Bentuk pemerintahan yang di konsep Oliver Cromwell “Persemakmuran
dengan suatu Council of State” (Dewan
Negara) yang para anggotanya dipilih oleh Long
Parlaiment kemudian lebih spesifik disebut Rump Parliament. Oleh Oliver Cromwell parlemen diperkecil dengan
menghapus Majelis tinggi, namun majelis rendah masih memegang kekuasaan
legislatif. sehingga timbul pertentangan antara Rump Parliament dan militer menyangkut masalah agama dengan sudut
pandang yang berbeda. Akhirnya dewan itu di bubarkan dan di ganti dengan Parliament of Saints (parlemen
orang-orang Suci). Dewan baru ini pun berselisih masalah agama, dan kemudian
dibubarkan lagi bulan Desember 1653.
Bentuk pemerintahan yang di susun “Persemakmuran” diperbaiki lagi
menjadi Protektorat dengan menempat kan Oliver Cromwell sebagal “Lord Protector” (sang pelindung). Parlemen mengadakan
persidangan pertama tahun 1654, yang berusaha merubah konstitusi sehingga
terdapat perseliihan dengan Oliver Cromwell tidak dapat di hindarkan lagi.
Tahun 1655 parlemen itu dibubarkan.
Akhir pemerintahan Oliver Cromwell :
Oliver Cromwell
meninggal tahun 1658 sebagai tokoh yang disebut Lord Protector, di ganti oleh putranya Richard Cromwell. Namun ia
tidak mewarisi sufat kepemimpinan militer sehingga mudah timbulnya anarki.
Rakyat Inggris siap kembali ke sistem Monarkhi dan meninggalkn sistem republic.
Segera Jendral Monck merebut kekuasaandari Richard Cromwell tanpa pertumpahan
darah. Long Parliament hasil
pemilihan tahun 1640, ia menyidangkan kembali guna memberi kesempatan kepada
dewan itu untuk membubarkan diri. Setelah pembubaran itu terlaksana, dibentuk
parlemen baru dengan pemilihan bebas.
2.2.4. Masa Charles II
(1660 – 1685)
Dalam sejarah bangsa Inggris, masa pemerintahan Charles II disebut
Restorasi, karena mengembalikan bentuk pemerintahan republik pada masa Oliver
Cromwell kembali lagi menjadi
monarkhi.
Latar belakang Restorasi ini karena adanya berbagai tindakan
radikal yang menginginkan perubahan secepatnya, walaupun harus menabrak
berbagai lembaga tradisionsal yang telah lama ada. Lembaga tradisional yang
telah ada seperti Monarkhi, Common Law, Magna
Charta dan Parlemen, walaupun banyak penyimpangan.
Masa pemerintahan Charles sebagai pengganti dari masa Oliver
Cromwell, berjanji akan memerintah Inggris sesuai dengan apa yang diamanatkan
oleh parlemen yang tertuang dalam undang – undang. Berarti raja tidak akan
menterapkan absolutismenya.
Berbagai kelompok yang muncul dengan beragam kepentingan,
sebenarnya mereka berebut ingin menguasai keparlemenan di Inggris. Raja
memanfaatkan situasi politik pada masa itu dengan melakukan politik adu domba.
Melalui cara tersebut, keinginan Charles
II mengembalikan monarkhi absolut dengan dukungan sebagai kaum royalis
diharapkan dapat berhasil
Pada masa pemerintahan Charles II partai politik secara garis besar
dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok partai Torries adalah pendukung monarkhi yang sebgian besar terdiri atas
bangsawan rendahan dan para Gentry
dan partai whig yaang terdiri atas bangsawan tinggi dan kelas
menengah yang mendominasi suara di Parlemen.
Parlemen Inggris berhasil didominasi oleh partai Whig yang tidk ingin James meggantikan
Charless II karena bukan keturunan yang sah. Kaum Torries menentang rencana
itu. karena pertikaina kedua kelompok tersebut maka Charless II membubarkan
Parlemen dan melaksanakan pemerintahan yang absolut.
2.1.5. James II (1685 – 1689)
Ketika Charless II meninggal pada tahun 1685, ia digantika adiknya
James II (1685-1688) yang beragama katolik. Penobatan Jamess II mengalami perlawanan dari kaum Whig dengan pemimpin Duke of Montmouth dengan dukungan dari
ribuan orang dari para baron. Akan tetapi pemberontkan ini dapat dibasmi dan
pembalasan dendam yang sangat kejam dengan menjatuhkan hukuman mati setelah
diberi penyiksaan terlebih dahulu. Akibat tindakan James yang kejam ini membuat kaum Torries harus meninjau
kembali posisisnya.
James II dalam menghadapi kaum oposisi tidak merasa gentar. Agar
tujuannya dapat tercapai ia mengembalikan Inggris kepangkuan Gereja Katolik
Roma. Ia membentuk tentara yang besar dengan para tentara katolik dari
polandia. James II merasa memiliki hak prerogative untuk menangguhkan
pelaksanaan semua undang – undang. Ketika dewan parlementer mengajukan protes ,
dewan ini dibubarkan. Tindakan James II mempertahankan monarkhi absolut dengan
menempatkan Agama Katolik sebagai
agama negara yang menambah kegusaran dan
kesengsaraan rakyat Inggris dari berbagai lapisan masyarakat.
Situasi politik muncul ketika istri kedua James II melahirkan anak
laki-laki pertama pada keluarga James II. Berita ini menimbulkan oposisi yang
tidak puas, karena raja sudah lanjut usia dan memiliki putri yang beragama
Protestan bernama Mary dan telah menikah dengan pangeran Wiliam of Orange dari Belanda, tetapi dengan lahirnya anak
laki-laki ini yang akan didik dengan ajaran agama katolik, harapan ini musnah.
Untuk itu pemimpin partai Whig dan Torries bersepakat segera mengirim
undangan rahasia pada Wiliam dan Mary di Belanda. Kedatangan mereka disambut
hangat oleh para tentara dan masyarakat. Karena James sudah tidak kuat lagi dan
tentaranya membela Wiliam dan Mary akhirnya keluarga James II melarikan diri ke
Prancis. Wiliam membiarkanya lolos karena disamping ia adalah mertuanya sendiri
dan ia tidak ingin terjadi pertumpahan darah.
Pada Desember 1688 menyatakan bahwa James II telah meninggalkan
negara dan karenanya telah turun tahta. Setelah penobatan itu, menjadi kerajaan
parlementer dengan pemerintahan yang kuat. Sehingga tidak ada penguasa yang
mengatakan pemerintahan atas dasar hak ketuhanan, karena faktanya dilakukan
melalui pemungutan suara diparlemen. Hal mempunyai arti histories,dan menandainya
berakhirnya persaingan antara parlemen dan monarkhi yang telah berlangsung
berabad-abad.
2.1.6 Perubahan –Perubahan Dan Suksesi
(1689-1702)
Pada masa pemerintahan William III beserta Mary, sesuai dengan
konstitusi di Inggris masa itu terjadi perbedaan azas di bidang politik antara
partai Whig dan Torries yang telah terselesaikan dalam The Glorious Revolution. Bentuk pemerintahan kerajaan dan Gereja
Anglikan sebagai Gereja nasional Inggris telah dikembalikan, maka kemerdekaan
beragama pun dihapuskan dengan dikeluarkannya suatu rentetan undang-undang
terhadap kaum Dissenters.
Sebenarnya pada kaum Dissenters masih ditemukan adanya
undang-undang yang membatasi mereka seperti Test
Act dan Corporation Act yang
menyebutkan bahwa kaum Dissenters dan katolik dilarang menduduki Parlemen dan
jabatan sipil dan militer. Namun bagaimana pula Toleration of Act adalah
langkah maju kearah toleransi yang sebenarnya.
Pada masa pemerintahan William III dan Mary terjadi pemberontakan
yang dilakukan oleh bekas raja Inggris , James II, pada tahun 1690, yang
mendarat di Irlandia. Latar belakang Pemberontakan adalah perampasan tanah orang Irlandia yang diberikan pada orang Protestan Inggris pada masa
pemerintahan Oliver Cromwell. Dalam peperangan tersebut pasukan-pasukan militer
Prancis dan Irlandia berhasil dikalahkan di pertempuran Sungai Boyne, kekalahan
itu membuat James II melarikandiri lagi ke Prancis.
Akibatnya orang Irlandia yang beragama katolik oleh undang-undang dilarang menjadi anggota Parlemen, guru,
dan menduduki jabatan lain baik sipil dan militer. Rakyat Irlandia merasa
betapa tindakan Inggris begitu yang tidak adil dan sangat merugikan, hal itu
telah menimbulkan rasa dendam yang berkepanjangan terhadap Inggris. Pada masa
William III dan Mary dalam menata Politik luar negerinya, melakukan revolusi
diplomatik. Pada masa Charles II dan James II, Inggris ditempatkan pada posisi
“Satelit Prancis” sedangkan dibawah William dan Mary posisinya berubah total
dengan memperkasai suatu “Persekutuan Besar” sejumlah Negara Eropa seperti : Belanda,
Brandenbrug, Savoy, Jerman, dan Spayol.
Pada tahun 1701
diberlakukan Act of Settlement berisi
mengamankan hasil – hasil Glorious
Revolution. Bahwa pengganti raja tidak boleh seorang
pewaris dari Raja James II yang beragama katolik. Dan telah diputuskan bahwa
penggatinya adalah Anne sebagai penguasa dan jika meninggalakan digantikan
Sophia dari Hanover ,Jerman, cucu James I.
2.1.7 Akhir Keluarga Stuart (1702-1714)
Berdasarkan undang-undang yang tercantum pada Act of Settlement yang telah disusun oleh parlemen, Anne ditetapkan
menjadi ratu Inggris pengganti William III, Ia adalah adik Mary II dan hal itu merupakan tanda bahwa James II tidak mungkin lagi menjadi raja
Inggris. Pada masa
pemerintahan Ratu Anne Inggris telah disibukan dengan masalah perang
dengan Prancis. Partai Whig adalah
golongan mayoritas anggota yang menguasai Majelis Rendah, sangat antusias dalam
mendukung kebijakan Ratu Anne memperkuat angkatan perang Negara. Kebijakan Ratu
Anne banyak melibatkan perang dengan negara lain yang menimbulkan pro dan
kontra dilingkungan partai yang duduk di Parlemen.
Pergantian raja :
Peristiwa memburuknya kesehatan Ratu Anne mrenimbulkan permasalah dilingkungan Parlemen
Inggris. Siapa yang akan menggatikan jika ratu meninggal. Partai Torries yang
berkuasa di parlemen tetap menggunakan ketentuan Act of Settlementakan tetapi pihak lain Ingin mendudukan James III
walaupun beragama Katolik. Sementara kericuhan terjadi Ratu Anne meninggal dunia. Seharusnya yang menggantikan
adalah Ratu Sophia akan tetapi baru saja meninggal terlebih dahulu. Dan anak laki-lakinya
bernama George I diangkat menjadi Putra Mahkota. Kemudian 2 tahun kemudian 1714
ia dinobatkan sebagai raja (1714-1727). Baru setelahnya digantikan oleh adiknya
George II (1727-1760).
2.3 Absolutisme di Negara Perancis
Pasca feodalisme Perancis mengalami sistem
pemerintahan baru, yakni munculnya Perdana Menteri sebagai kawan kerja Raja.
ketika pemerintahan di awali olah LOUIS XIII dan Perdana Menteri Richeliu, pada
saat itu telah diletakkan dasar-dasar pemerintahan Perancis yang mengharap pada
pemerintahan yang absolutisme.
Pengganti LOUIS XIII adalah LOUIS XIV
didampingin Perdana Menteri Mazarin, saat ini merupakan penyempurnaan
konstitusi. namun sejak Mazarin meninggal, louis XIV segera mengmbil alih
seluruh kekuasaan pemerintahan dengan landasan pemerintahan absolutisme yang telaha
da, terciptalah pemerintahan absolute di Perancis langsung ke puncak.
Louis XIII meletakkan dasar absolutisme. pada
pemerintahan louis XIV puncak absolutisme di Perancis mencapai puncaknya. Louis
XIV mulai menguatkan kelompok oposisi terutama dari golongan cendikawan
Perancis. dari kelompok oposisi inilah segera diluncurkan berbagai tulisan
mengkritik terhadap pemerintahan Louis XV. sehingga eksistensi raja mulai
merosot. ada semboyan "L'etat Cest
Moi" (negara adalah saya). pada saat Louis memerintah, ini adalah
pedomannya. karena mampu mepertahankan pemerintahan untuk mempertahankan status
quo.
Posisi oposisi memperoleh angin segar, yang
mendapat dukungan dari bawah. ketika Louis XV diganti Louis XVI pada saat ini
yang tampil di Perancis adalah kehancuran ekonomi, politik dan hukum. akibatnya
oposis semakin besar, terjadilah revolusi Perancis tahun 1789. absolutisme
Perancis dimulai dari Louis XII sampai Louis XVI. Perancis dan Inggris merupakan cermin
absolutisme di Eropa. Perancis mencapai puncak pada pemerintahan Louis XIV,
Inggris pada masa James II.
Di dalam bidang ekonomi, Menteri Jean
Baptiste Colbert (1622-1683) sangat besar jasanya dalam melaksanakan politik
ekonomi Merkantilisme. Sehingga pada masanya sering disebut dengan masa
Colbertisme. Semua kewajiban perdagangan dan perekonomian diatur oleh
pemerintah dengan tujuan untuk mendapat keuntungan dalam jumlah yang sangat
besar. Pada masa kekuasaan Raja Louis XIV (1643-1715) kekuasaan absolutisme
Perancis mencapai puncak kejayaannya. Terbukti dengan beberapa langkah yang
ditempuh oleh Raja Louis XIV dalam masa pemerintahannya, diantaranya :
1.
Mematahkan benteng-benteng kaum Calvinist yang
merupakan negara-negara kecil di dalam lingkungan kerajaan Perancis.
2.
Menghapuskan kekuasaan kaum bangsawan feodal
dan raja-raja vasal, sehingga mereka tinggal menjadi tuan-tuan tanah.
3.
Fungsi dan peranan lembaga perwakilan rakyat
dihapuskan pada pemerintaha Raja Louis XIV.
Ciri-ciri pemerintahan Raja Louis XIV adalah
sebagai berikut :
1.
Memerintah tanpa undang-undang
2.
Memerintah tanpa dewan legislatif
3.
Memerintah tanpa kepastian hukum
4.
Memerintah tanpa anggaran belanja yang pasti
5.
Memerintah tanpa dibatasai oleh kekuasaan
apapun.
Raja Louis XIV terkenal dengan ucapannya “L’etat c’est moi” (negara adalah saya)
yang merupakan suatu semboyan abadi yang melukiskan bagaimana seorang raja
absolut paling berhasil dikawasan eropa pada masa itu. Masyarakat kota
merupakan penentang utama terhadap sikap dan pemerintahan Raja Louis XIV.
Golongan ini mempunyai sifat-sifat sebagai
berikut :
1.
Menjunjung tinggi azas persamaan
2.
Menjunjung tinggi kebebasan
3.
Penggunaan akal fikiran yang sehat dan serba
perhitungan
4.
Kehidupan warga masyarakat kota yang bersifat
liberalisme.
Akhirnya, Amerika Serikat berhasil memperoleh
kemerdekaannya tanggal 4 juli 1776, dimana dalam perang itu Perancis memberikan
bantuan kepada Amerika. Bantuan itu berupa pasukan sukarelawan dibawah pimpinan
Jendral Marquis de Lavayette, sehingga sekembalinya di Perancis Ia menyebarkan
semangat dan cita-cita kemerdekaan, kebebasan dan persamaan.
Tokoh-tokoh pembaharuan yang menentang
kekuasaan absolutisme raja-raja Louis diantaranya :
1.
John Locke (1632-1704) Seorang filsuf Inggris yang
menganjurkan adanya undang-undang (konstitusi) dalam suatu kerajaan dan
berpendapat bahwa manusia memiliki hak-hak sejak lahir seperti hak kemerdekaan,
hak memilih, hak untuk memiliki dan sebagainya.
2.
Montesquieu (1689-1755)- Seorang filsuf berkebangsaan
Perancis dalam bukunya L’Esprit des Lois (1748) (The Spirit of The Law)
menyatakan bahwa suatu negara yang ideal adalah yang kekuasaannya dibagi atas
tiga kekuasaan yaitu:
· Legislatif
(pembuat Undang-Undang)
· eksekutif
(pelaksana Undang-Undang)
· Yudikatif
(mengadili setiap pelanggar undang-undang)
Ketiga hal
diatas sering disebut dengan Trias Politica
3.
Jean jacques Rousseau (1712-1778)
Seorang filsuf Perancis dalam bukunya yang berjudul Du Contract Social
(Perjanjian Masyarakat), mengatakan bahwa manusia sejak lahir adalah sama dan
merdeka. Oleh karena itu ian menganjurkan sistem pemerintahan demokrasi atau kedaulatan
rakyat dengan semboyan ” dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”
2.4 Absolutisme di Negara Rusia
Setelah berhasil mengusir orang-orang
Polandia yang menguasai Moskow dan membebaskan Kremlin pada bulan oktober 1612,
pada bulan Februari tahun berikutnya di kota tersebut Zemsky Sobor memilih
Mikhail Rumanov, yang saat itu berusia 16 tahun, sebagai Tsar baru untuk
memimpin Rusia. Mikhail Rumanov walaupun bukan keturunan dinasti Ryurik, namun
masih merupakan kerabat dalam silsilah penguasa Rusia. Ayah Mikhail, Fyodor
Rumanov yang lebih dikenal sebagai Pendeta Filaret, adalah saudara sepupu (dari
garis Ibu) dengan Tsar Fyodor I (putra Ivan IV).
Kepemimpinan Filaret dalam pemerintahan
Tsar Mikhail menunjukkan hubungan Negara dan gereja, dimana Gereja Ortodoks
memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam penentuan kebijakan Negara.
Pemerintahan Mikhail ditandai dengan meningkatnya perekonomian pemerintah
Moskow. Industrialisasi (termasuk industry militer) dikembangkan dengan cara
mendatangkan pengusaha, ahli-ahli dari Eropa Barat khususnya Belanda dan
Skotlandia. Kebijakan perluasan wilayah baik ke barat (Eropa) dan ke timur
(Asia) mengalami perkembangan yang pesat. Dinasti Rumanov melahirkan banyak
pemimpin besar Rusia seperti Peter Agung, Katerina II (Agung) dan Aleksandr I
yang membawa Rusia menjadi sebuah imperium yang disegani tidak hanya di Eropa
namun di seluruh dunia.
2.4.1 Rusia pada masa Peter I
Rusia modern tak bisa
dilepaskan dari sosok seseorang Tsar Peter Agung (Peter I). Ia seseorang
pemimpin yang keras dan memilki perangai yang unik yang membedakannya dari
pemimpin-pemimpin Rusia yang terdahulu. Ia lebih menyukai bidang-bidang
teknik.Peter naik tahta dalam usia yang masih sangat muda, belum mencapai 10
tahun, tepatnya pada tanggal 27 April 1682. Bersama saudara tirinya Ivan
Alekseyevich, Peter dinobatkan menjadi Tsar Rusia.
Ketika masih berusia 6
tahun, ayahnya, Tsar Aleksei, meninggal dunia. Kematian tersebut diikuti
konflik di kalangan keluarga kerajaan, mengingat Tsar Aleksei punya 2 orang istri.
Kedua orang istri menginginkan tahta bagi kalangan mereka sendiri. Berbagai
peristiwa perebutan pengaruh di istana menjadi faktor penting yang turut
membentuk karakter Peter menjadi sosok yang keras terhadap musuh-musuhnya.
Melihat ketertinggalan bangsanya dibanding negara-negara Eropa lainnya, Peter
memutuskan untuk mengadakan berbagai perubahan mendasar dalam pemerintahan dan
masyarakat. Setelah di atas takhta Petrus Rusia ambisi untuk cepat menjadi
jelas. Dia terlibat Kekaisaran Ottoman, dan mengambil Laut Azov di muara Sungai
Don, Rusia memberikan akses ke Laut Hitam, dan dari sana ke Mediterania dan
Atlantik. Rusia sekarang memiliki pelabuhan air hangat.
Pada tahun 1697 Rusia
mengirimkan sebuah misi keliling Eropa Barat dalam rangka mencari dukungan
dalam perang menghadapi Turki. Misi yang melibatkan ratusan bangsawan dan
voluntir tersebut secara resmi dipimpin oleh 3 orang Duta Besar yakni: Lefort,
Golovin, dan Vozntsin, walaupun sebenarnya Misi Besar tersebut dipimpin oleh
Peter sendiri. Peter ingin melihat apa yang penguasa lain lakukan, apa
prioritas mereka, bagaimana mereka menggunakan kekuasaan mutlak, sehingga ia
bisa meniru mereka dalam modernisasi Rusia.
Setelah kampanye yang
sukses ini, Petrus memulai atas Grand Tour di Eropa, menyerap segala sesuatu
yang bisa ide-ide Barat dan teknologi. Tidak seperti kebanyakan penguasa,
Petrus percaya bahwa cara terbaik untuk belajar adalah dengan melakukan, dan ia
sangat tertarik pada pembangunan kapal-kapal . Di Belanda dan di Inggris, dia
sering menggulung lengan baju dan bergabung dengan buruh umum pada tugas-tugas
mereka. Pada kesempatan tersebut Peter mengunjungi kota-kota seperti Liban,
Pillau, Kenigsburg. Peter juga mengunjungi Belanda yang terkenal sebagai negeri
pembuat kapal dan ahli militer.
Pada tahun 1698 ia
bertolak ke Inggris untuk mempelajari arsitektur kapal di negara yang dikenal
dengan armada laut yang cukup tangguh tersebut. Pada tanggal 18 April ia
meninggalkan Inggris dan langsung ke Austria. Dari Wina, ia sebenarnya ingin ke
Republik Venesia, namun ada berita tentang Pemberontakan Strelsty yang terjadi
di Rusia. Dalam perjalanan pulang Tsar Peter bertemu dengan Raja Polandia,
August II. Pertemuan ini sangat mengesankan Peter, hingga keduanya sepakat
untuk saling membantu.
Pada tanggal 30
September 1698, 200 orang pertama yang terlibat dalam Pemberontakan Strelsty
dihukum mati, 5 orang diantaranya dipenggal dengan tangan Peter sendiri. Proses
penghukuman berlangsung lama. Sekitar 200 pemberontak dihukum gantung di dekat
Monasteri Novodevichi Moskow, dan mayat mereka dibiarkan sampai 5 bulan.
Satu hal yang ia jelas
melihat di mana-mana di Eropa Barat adalah penekanan pada perang, pertahanan,
perluasan, dan militer. Peter karena itu banyak menaruh perhatian ke dalam
membangun kembali dan modernisasi pasukannya. Bangsawan yang diperlukan untuk
melayani untuk kehidupan di tentara atau di birokrasi, dan kaki tentara wajib
militer mudah dari budak petani. Angkatan bersenjata Rusia, yang jumlahnya
sebanyak 200.000 orang, menjadi kekuatan tempur modern, dengan disiplin baru,
senjata baru, seragam baru dan lain-lain. Fungsi yang paling penting dari
tentara adalah untuk melawan Kekaisaran Turki tetangga.
Salah satu isu paling
lama berdiri dalam urusan luar negeri Rusia ialah minat mereka untuk menguasai
kawasan Laut Hitam, hal itu dimulai dari pemerintahan Peter Agung dan berlanjut
hingga saat ini. Masalahnya adalah Rusia kebutuhan untuk sebuah pelabuhan yang
tidak membeku di musim dingin, yang disebut “pelabuhan air hangat”. Jika Rusia
adalah untuk mengembangkan ekonomi ekspor, mereka harus memiliki cara untuk
memindahkan barang-barang besar tahun-sekitar, yang mungkin dari satu-satunya
pelabuhan barat Rusia telah, tinggi di Laut Baltik. Jadi, Peter menargetkan
pelabuhan Laut Hitam sudut ekspor. Satu-satunya masalah adalah bahwa seluruh
Laut Hitam itu dikendalikan oleh orang Turki, maka perang terus-menerus untuk
mengamankan pelabuhan di sana. Setelah port tersebut telah didirikan, masalah
berikutnya adalah untuk memastikan bahwa kapal-kapal bisa keluar dari Laut
Hitam melalui selat sempit dari Bosporus dan Dardanella sekali lagi
dikendalikan oleh orang Turki. Dengan demikian, masalah pelabuhan air hangat
berlangsung lama setelah kematian Peter Agung, dan bahkan hari ini, Rusia
sangat berhati-hati pada urusan di daerah Turki dan Laut Hitam.
Proyek besar lain bahwa
Petrus melakukan demonstrasi dalam modernisasi adalah meninggalkan gedung DPR
yang lama di Moskow dan konstruksi yang baru ultra modern di tepi Laut Baltik.
Dia membawa barat terbaik arsitek dan perencana kota ke Rusia untuk meletakkan
luar kota dan bangunan baik, dan memiliki istana megah yang dibangun di tepi
air. Istana itu hampir satu duplikat yang sama persis istana Versailles, yang
merupakan semacam simbol kekuasaan di Perancis.
Petrus juga mengalihkan
perhatian pada ekonomi Rusia sebagai bagian dari rencana modernisasi. Pajak
itu, seperti biasa, pertimbangan utama, dan ia menciptakan semua jenis pajak
baru selain untuk memperbaiki koleksi pajak yang telah ditetapkan. Pajak muncul
di hampir segalanya. Salah satunya adalah dikenai pajak atas jumlah orang dalam
keluarga mereka, jumlah lahan yang dimiliki, jumlah penginapan, atau pabrik,
atau bisnis lain yang mereka miliki. Di samping itu, ada pajak atas
barang-barang seperti biasa seperti kulit, daging, dan garam. Ada pajak atas
jumlah ruang bawah tanah dalam satu rumah, ini menjadi sesuatu dari pajak
pendapatan, karena hanya orang kaya punya cukup uang untuk membangun rumah yang
cukup besar untuk memiliki ruang bawah tanah. Ada pajak untuk menikah, dan
bahkan pada dikubur, seperti peti mati yang diperlukan untuk pemakaman, dan
dikenai pajak. Beberapa pajak bahkan dirancang untuk menghukum perilaku kuno
dan imbalan modern, seperti pajak janggut. Janggut yang tradisional di Rusia,
tetapi jika seorang pria ingin memakai satu, ia harus membayar pajak.
Petrus juga
mengembangkan kebijakan komersial baru sebagai bagian dari modernisasi ekonomi.
Menyalin dari Perancis, ia membangun sebuah kapal dagang pengiriman untuk
ekspor, dan mendorong ekspor bulu dan biji-bijian dan kayu. Ia juga
mengembangkan pertambangan, metalurgi, dan perusahaan tekstil, sehingga awal
sesuatu dari mini revolusi industri. Tenaga kerja berasal dari petani-budak,
yang ditugaskan oleh tuan tanah / pemilik, yang pada gilirannya diperintahkan
oleh Tsar untuk membangun bisnis tertentu.
Budaya Rusia juga
diperlukan modernisasi. Karena kurangnya lembaga pendidikan di Rusia, ia
memaksa para bangsawan untuk mengirim anak-anak mereka ke luar negeri untuk
pendidikan mereka, yang berarti bahwa mereka kembali tidak hanya dengan
pendidikan modern, tetapi juga banyak ide-ide modern lainnya. Petrus
menyederhanakan alfabet Rusia, mendorong sastra, dan mengedit koran pertama.
Peter Agung bisa melakukan semua ini karena ia adalah seorang penguasa mutlak.
Bahkan, ketika berpikir tentang absolutisme, bentuk di Rusia ini boleh dibilang
yang paling mutlak dari semua sistem mutlak.
Namun, sebelum
meninggalkan topik ini, dua titik tentang Peter Agung dan modernisasi harus
dilakukan. Pertama, ia dimodernisasi hanya bagian kecil dari total
penduduk, orang kaya. Untuk petani Rusia, tidak ada modernisasi, tidak ada
perubahan dalam situasi. Satu-satunya perubahan ia akan menyadari akan kenaikan
pajak. Oleh karena itu, modernisasi hanya mencapai sebagian kecil dari Rusia. Kedua,
modernisasi meninggal ketika Petrus berhenti memerintah. Akhir modernisasi
setelah Peter Agung pada tahun 1917 berarti bahwa ketika kaum Bolshevik
menggulingkan pemerintah dan mendirikan tsar Revolusi Rusia, salah satu masalah
terbesar yang mereka hadapi adalah negara keterbelakangan dibandingkan dengan
seluruh Eropa.
Perebutan
Kekuasaan Istana Pasca-Peter Agung
Setelah meninggalnya
Peter I tanpa menunjuk pewaris tahta, kalangan istana mengalami beberapa usaha
perebutan kekuasaan antar kelompok-kelompok bangsawan yang berkuasa. Katerina I
(1725-1727) adalah isteri Peter I yang kemudian berkuasa setelah Peter I
meninggal. Ia mendapat dukungan bangsawan pengawal, walaupun mendapat
perlawanan dari Senat. Walaupun tidak pernah mendapatkan pendidikan formal dan
buta huruf, Katerina I memahami karakter suaminya. Ia menyerahkan urusan-urusan
kenegaraan kepada sebuah dewan yang dinamai Dewan Rahasia Tertinggi yang
dibentuk pada 1726. Dewan yang terdiri dari para bangsawan terkemuka itu
memiliki mandate yang luas untuk membatasi kekuasaan Tsar. Banyak peninggalan
Katerina I penting untuk dicatat yaitu: Ekspedisi Bering (untuk mengetahui
apakah Benua Asia dan Amerika Utara menyambung); Pembukaan Akademi Ilmu
Pengetahuan;Usulan Pembentukan Ulozhenie dan beberapa undang-undang
administratif.
Katerina I meninggal
pada 1727, dan menyebutkan bahwa Peter II (cucu Peter I dari isteri I) sebagai
pewaris yang sah. Peter II yang masih sangat muda ( baru berusia 12 tahun)
menjadi objek perebutan pengaruh kalangan bangsawan istana. Para bangsawan
berusaha untuk menanamkan pengaruh mereka. Namun secara mendadak pada tanggal
19 Januari 1730, Peter II meninggal secara mendadak sehari menjelang
pernikahannya, dikarenakan sakit.
Meninggalnya Peter II
secara mendadak dan usaha merebut kekuasaan oleh para bangsawan Dolguruki
dengan membuat surat wasiat palsu juga mengalami kegagalan, dan hal tersebut
membuat Dewan Rahasia Tertinggi mencari pewaris yang sah. Namun hal tersebut
mengalami jalan buntu, mengingat Peter II adalah keturunan laki-laki terakhir
dari Dinasti Rumanov. Dan akhirnya Dewan Rahasia Tertinggi menunjuk Anna
Ivanovna (1730-1740) sebagai pewarih kerajaan (saat itu Anna Ivanovna sudah
menjadi janda).
Dewan Rahasia Tertinggi
mengundang Anna Ivanovna untuk memimpin Imperium Rusia dengan beberapa syarat
mengikat. Selama menjadi Imperatritsa ia tidak diperkenankan menikah; tidak
berhak menunjuk keturunanya sebagai pengganti, mengumumkan perang dan
menetapkan pajak. Anna menyetujui perjanjian tersebut, dan Anna pun di angkat
menjadi Imperatritsa Rusia. Namun setelah menjalankan pemerintahan ia merasakan
tekanan yang terlalu berat dari kalangan bangsawan. Dengan mempertimbangkan
untuk mempertahankan kekuasaan ia merobek perjanjian dan membubarkan Dewan
Rahasia Tertinggi.
Menjelang kematiannya,
Anna mengumumkan Ivan VI (keponakannya yang masih berusia 2 tahun) sebagai
pewaris tahta, dan mengangkat Bryon sebagai Regent hingga Ivan dewasa dan siap
menerima tahta. Anna meninggal pada 17 Oktober 1740 setelah sakit selama 12
hari. Namun tidak sampai 1 bulan setelah Anna meninggal, ibu dari Ivan VI (Anna
Leopoldovna), mengadakan kudeta dan mengumumkan diri sebagai pemimpin negara.
Byron ditangkap dan dikirim ke pembuangan.
Setelah setahun dari
peristiwa kudeta oleh Anna Leopoldovna, terjadi kudeta yang dilakukan oleh
Elizaveta Petrovna (puteri Peter I), yang didukung oleh sebagian besar perwira
dan prajurit Preobrazhenski. Setelah kudeta berhasil, Elizaveta Petrovna,
menandatangani Manifes pengangkatan dirinya sebagai penguasa Rusia. Dalam
pemerintahannya Elizaveta Petrovna banyak mengungkap adanya konspirasi. Hal ini
disebabkan ketidakpuasan para bangsawan yang melihat bahwa keturunan Ivan V
lebih berhak daripada keturunan Peter I. untuk menyelamatkan garis keturunan
Peter I, Elizaveta mengundang keponakannya, Charles
Peter of Holstein, untuk mempersiapkan sebagai penggantinya. Tanggal 27
November 1742, Charles Peter diumumkan sebagai pewaris tahta, menggantikan
Elizaveta sebagai Peter III.
2.4.2 Rusia pada masa Peter III
Peter III ( 1761-1762),
adalah pewaris tahta kekaisaran Rusia pada pertengahan Abad 18, kaarena desakan
Tsarina Elizaveta Petrofna, sebagai upaya untuk mempertahankan garis keturunan
Peter I. Ia tidaklah terlalu dekat dengan kebudayaan rusia dan slavia secara umum,
mengingat ia hidup dan dibesarkan di lingkungan kerajaan Prussia. Walaupun
masih keturunan Peter Agung, Peter III adalah seorang lutheran yang begitu
membanggakan Prusia. Pangeran yang terlahir dengan nama Charles Peter of
Holstein ini kemudian di babtis secara ortodoks dengan nama Peter Vyodorovich
ketika ia kembali ke rusia untuk dicalonkan sebagai pewaris tahta. Pada tahun
1745 Pangeran Holstein ini juga menikah dengan seorang putri bangsawan Prusia
bernama Sophi Auguste Frederica.
Peter III adalah sosok
yang lemah tetapi kasar. Sebagai tsar ia tidak memiliki kemampuan sebagai
pemimpin sebuah negara besar. Keberpihakannya pada Prusia mempengaruhi
kebijakan internasional Rusia. Pada awal pemerintahannya ia langsung membuat
perjanjian perdamaian dengan Prusia yang saat itu diperintah oleh Frederik II.
Padahal saat itu Rusia berposisi cukup kuat untuk menaklukan Prusia. Peter III
justru memberikan kesempatan kepada Prusia untuk memperkuat diri.Peter III yang
tak menguasai bahasa Rusia dengan baik itu dipaksa turun tahta oleh intrik yang
dipersiapkan oleh Katarina II, istrinya Juni 1762. Ia dibunuh sebulan setelah
diturunkan dari tahta.
2.4.3 Rusia Pada massa Katerina II
( 1762-1792)
Setelah katerina naik
tahta, ia kemudian membentuk komisi militer yang bertugas menyelenggarakan
reformasi pasukan bersenjata. Komisi militer ini adalah jawaban atas
ketidakpuasan yang ditimbulkan oleh reformasi militer yang dilaksanakan rezim
sebelumnya. Berbagai persoalan masyarakat yang selama ini terlupakan oleh
pemimpin monarkhi seperti masalah kesehatan, justru mendapatkan perhatian
khusus dari katerina II. Ia juga membentuk kolega ekonomi guna menurunkan
inflasi sebagai akibat pengeluaran yang besar dalam perang melawan turki. Ia
juga memperluas arus imigrasi bangsa asing untuk tinggal dan berusaha di rusia.
Pemerintahan katerina
tidak berjalan dengan baik sesuai dengan yang di harapkan. Katerina di hadapkan
pada masalah dalam negeri yang tidak ringan. Selain inflasi yang menimbulkan
keresahan, pemberontakan juga terjadi pada masa pemerintahannya. Sekitar 200
ribu orang berjuang untuk pugachev
yang menjanjikan kebebasan budak dan mengembalikan hak hak istimewa bangsa
Kosak. Periode pemrintahan Katerina II memberikan banyak kemajuan bagi rusia
tak hanya di bidang politik dan pemrintahan. Kesehatan Katerina mengalami
penurunan seiring dengan meningkatnya usia. Katerina II meninggal 7 November
1796 dan di teruskan oleh putra tunggalnya Pavel Petrovich yang berkuasa hingga
1801.
2.4.4 Rusia Pada masa Alexander I
(1801-1825)
Alexander adalah putera
pertama Paul I dengan Imperatrich Maria Feodorovna. Ia lahir pada 12 Desember
1777. Menduduki tahta pada 12 Maret 1801 dan mendapatkan mahkota kerajaan
setengah tahun kemudian, kemudian lupa akan ide-ide liberal, pembebasan petani,
budak, dan konstitusi tidak dilaksanakan. Perhatian utamanya adalah perang
dengan napoleon. Pada akir pemeintahan ia mengikuti mengikuti politik metternich, politik intervensi yang
dilancarkan terhadap gerakan-geraan revolusoiner. Oposisi datang dari kalangan
opsir-opsir muda yang telah mengenal liberalisme dari barat.
2.4.5
Rusia Pada masa tsar Nikolas II
Sistem pemerintahan
yang dilaksanakan oleh tsar Nikolas II merupakan kelanjutan dari sistem
pemerintahan yang dikembangkan oleh ayahnya tsar alexsander III. Sistem
pemerintahan yang digunakan adalah sistem pemerintahan absolut, yakni tsar
sebagai penguasa tertinggi yang tidak dapat di ganggu gugat keputusan maupun
perbuatannya. Pemerintahan tertinggi di kerajaan Rusia adalah tsar yang di
bantu oleh golongan otokrasi Rusia.
Negara sangat
tergantung pada perintah dan kehendak tsar yang di anggap sebagai hukum. Tsar
melakukan pemerintahannya dengan bantuan kabinet yang disebut Dewan kekaisaran.
Mentri-mentri dalam kabinet bertanggung jawab secara langsung kepada tsar. Tsar
adalah kepala pemrintahan dan sekaligus sebagai kepala negara. Tugas–tugas
administratif dilaksanakan oleh golongan konserfatif.
Tsar nikolas II adalah
seorang raja yang sangat percaya dan yakin bahwa otokrasi merupakan sesuatu
yang paling tinggi dan paling dibutuhkan oleh Rusia. Ia sangat memusuhi
pikiran–pikiran konstitusionil bahkan mengatakan bahwa ia akan menjaga prinsip–prinsip
otoraksi setegas bapaknya yakni tsar Alexsander III. Upaya – upaya tersebut
dilakukan untuk memperkuat legitimasi kekuasaannya.
Dampak
Absolutisme di Rusia
Pemerintahan masa
Nicholas II banyak muncul kelompok-kelompok rahasia yang ingin memperjuangkan
penggulingan kekuasaan kekaisaran. Pada akhirnya Nicholas II digulingkan oleh
partai sosialis. Partai sosialis pada saat kongres di Jerman pecah menjadi dua,
yaitu
1)
Bolsyewik:
kelompok sosialis radikal, yang menginginkan adanya perubahan secara radikal.
2)
Mensyewik:
kelompok sosialis yang menghendaki perubahan secara moderat.
Di Rusia Bolsyewik
dipimpin oleh Lenin, Stalin, Trostki. Lenin adalah penganut sosialis-komunis.
Komunisme Lenin dipengaruhi oleh pemikiran Karl Marx. Selain itu kebencian
Lenin terhadap kaum kapitalis atau borjuis yang absolut, membuatnya tidak
mempercayai kaum Borjuis. Jurang pemisah antara kaum proletar dengan Kapitalis
ini juga menjadi penggerak revolusi yang dilakukan Lenin. Hingga pada akhir
abad XIX, para kaum intelektual Rusia mulai menyusun rencananya untuk
menghancurkan Tirani Tsar. Kitab suci pegangan mereka adalah Manifesto Komunis
(Communist Manifesto) karangan Marx
dan Engels, yang satu tulisannya berbunyi :”Buatlah kelas penguasa gemetar
dengan revolusi kaum komunis”. Kaum proletar tidak akan kehilangan apa-apa
kecualin rantai yang membelenggunya. Mereka memiliki dunia ini. Mereka akan
menang. Wahai buruh seluruh dunia bersatu.
Pada 1905 juga sudah
adanya pertentangan antara pemimpin bolsyewik dan mensyewik menjadi makin
tajam. Dalam revolusi 1905 antara Bolsyewik dan Mensyewik bekerjasama pada
level lokal dengan menyebabkan perdebatan diantara para pemimpin mereka.
Revolusi ini dipicu oleh 1000 orang buruh dibunuh oleh tentara Tsar pada saat
mereka melakukan demonstrasi damai.
Revolusi 1917 berhasil
menggulingkan kekaisaran Tsar. Kekaisaran Rusia terguling melalui kekacauan di
bulan Maret 1917 setelah Csar Nicholas II turun tahta dan pemerintahan imperial
digantikan dengan sebuah pemerintahan proposional yang dipimpin oleh sosialis
moderat alexander Fyodorovic Kerensky. Bolsyewik, jaringan komunis yang
dipimpin Vladimir Ilyich Lenin dan terinspirasi tulisan Karl Marx dan Fredrick
Engels, dibentuk untuk menentang rencana pemerintahan provinsional guna
mendirikan demokrasi Borjuis di Rusia. Dan Revolusi yang dipimpin Lenin ini
telah berhasil menggulingkan kekuasaan Tsar. Sehingga dari saat itulah sistem
pemerintahan Rusia yang semula kekaisaran berubah menjadi republik.
2.5
Absolutisme di Negara Prusia
Prusia adalah kerajaan Jerman dan
negara bersejarah yang berasal dari Duchy
of Prussia dan Margraviate of
Brandenburg. Selama berabad-abad, House
of Hohenzollern menguasai Prussia, dengan sukses meluaskan wilayahnya
dengan pasukan yang teratur dan efektif. Prussia membentuk sejarah Jerman,
dengan ibukotanya di Berlin setelah 1451. Setelah 1871, Prussia bersatu dengan
Jerman, yang menyebabkannya kehilangan identitas khususnya. Hal itu dihapuskan
dengan baik pada tahun 1932, dengan resmi pada tahun 1947. Prussia mencapai
kepentingan terbesarnya pada abad ke 18 dan 19. Ketika abad 18, ia menjadi
kekuatan Eropa terbesar dibawah pemerintahan Frederick the Great (1740–1786).
Ketika abad 19,
kanselir Otto von Bismarck menyatukan kerajaan Jerman menjadi “Jerman Bawah”
terkecuali Kekaisaran Austria. Setelah 1810 Prussia mendominasi Jerman secara
politik, secara ekonomis, dan dalam populasi, dan adalah inti dari kesatuan
Konfederasi Jerman Selatan yang dibentuk pada tahun 1867, yang menjadi bagian
dari Kekaisaran Jerman atau Deutsches Reich pada 1871.
Nama Prusia
diambil dari Bahasa Prusia lama. Pada abad ke-12, "Prusia lama" di
taklukan oleh Perajurit salib Jerman, Ksatria Teutonik. Pada tahun
1308, Kesatria Teuton menaklukan daerah yang dulunya milik orang Polanda yaitu
Pomerelia bersama Gdańsk (Danzig). Negara kebiaraan para ksatria
tersebut telah Dijermanisasi melalui imigrasi dari Jerman bagian Tengah dan
Barat, di bagian selatan di Polandianisasi oleh pemukim dari Masovia. Setelah
Perdamaian Thorn kedua pada tahun
1466, Prusia dipecah menjadi Kebangsawanan Prusia barat, proponsi dari Polandia
dan bagian timur yang dari tahun 1525 dikenal sebagai Kadipaten Prusia, kubu dari
Kemahkotaan Polandia hingga tahun 1657. Penyatuan Brandenburg dan Kadipaten
Prusia pada tahun 1618 berujung pada proklamasi Kerajaan Prusia pada tahun
1701.
Prusia memasuki
jajaran kekuatan besar tak lama
setelah menjadi kerajaan, dan memberikan pengaruh paling besar pada abad ke-18
dan 19. Selama abad ke-18, Prusia memiliki suara yang signifikan dalam isu
internasional dibawah pimpinan Friedrich Agung. Selama abad
ke-19, Kanselir Otto
von Bismarck menyatukan prinsipalita-prinsipalitas Jerman
menjadi "Jerman kecil" tanpa mengikutsertakan Kekaisaran Austria.
Pada Kongres
Wina, yang memetakan ulang Eropa setelah kekalahan Napoleon, Prusia mendapatkan
bagian yang cukup besar di Barat Laut Jerman, termasuk daerah yang kaya akan
batubara, Ruhr. Negara ini tumbuh dengan amat pesat dalam bidang ekonomi dan
politik, menjadi inti dari Konfederasi Jerman Utara pada
tahun 1867, dan nantinya Kekaisaran Jerman pada tahun
1871. Kerajaan Prusia sekarang amatlah besar di Jerman yang baru hingga
identitas Jerman tergantikan/tersamarkan oleh identitas Prusia. Garis
kebangsawanan Prusia berakhir pada tahun 1918. Pada masa Republik Weimar,
Prusia kehilangan hampir seluruh kekuatan politik dan legal mereka pada tahun
1932. Elit Prusia lama memainkan peran pasif pada rezim Nazi; Prusia di
hilangkan secara resmi pada tahun 1940-an. Prusia Timur kehilangan seluruh
populasi Jerman-nya setelah tahun 1945, dan di serap oleh Polandia dan Uni
Soviet.
Istilah
"Orang Prusia" sering digunakan terutama di luar Jerman, untuk
meguatkan kesan dari profesionalisme, agresifitas, militerisme dan
konservatifisme dari para Junker yang merupakan bangsawan tuan tanah di Timur
yang mendominasi Prusia dan nantinya Kekaisaran Jerman sebelum tahun 1918.
BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari
pembahasan mengenai absolutisme di Negara Eropa di antaranya :
1) Absolutisme adalah
suatu model pemerintahan yang kekuasaan tunggalnya di pegang oleh pemimpin atau
kerajaan, dan dilakukan secara absolute otorirer. pemahaman pemerintah yang berada di bawah
satu tangan dengan kekuasaaan mutlak.
2) Pemerintahan
absolitime di Negara Inggris mencapai puncaknya pada masa james I yang pada
masa pemerintahan ke absolutannya banyak menimbulkan banyak konflik. James VI adalah Raja
Skotlandia dari keluarga Stuart, yang sebagai Raja Inggris dikenal sebagai
James I.
3) Pemerintahan
Absolutisme di Perancis mencapai puncaknya pada pemerintahan louis XIV.
4) Rusia sebagai negara besar segera mengadopsi model
pemerintahan tersebut dan mencapai puncaknya pada pemerintahan Katarina II dan Peter
II dan diikuti oelh kaisar-kaisar berikutnya samapai dnegan masa NicolaS II.
5) Pemerintahan Absolutisme di Prusia diawali oleh Frederick
William dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Frederick William I. pada
saat yang bersamaan model tersebut telah global diikuti hampir diseluruh
kerajaan-kerajaan Eropa.
DAFTAR PUSTAKA
Sundoro, Mohammad Hadi. 2007. Dari Renaisanss sampai Imperialism Modern,
Sejarah Peradaban Barat dan Modern. Jember: Jember Universiti Press.
http://www.widya_antara/absolutisme-rusia-pemerintahan-peter-agung-sampai-nikolaII.html. [Diakses pada 25 September 2014]
http://www.up45.kelaskaryawan.absolutisme-prusia.html. [Diakses pada
25 September 2014]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar