BAB I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Paham merupakan ideology. Ideologi atau paham itu sendiri adalah
sebuah sistem atau gagasan yang secara normatik memberikan persepsi, landasan,
dan pedoman tingkah laku seorang atau masyarakat dalam kehidupan bermasyarat,
berbangsa dan bernegara guna mencapai tujuan yang di cita-citakan. Ideologi
atau paham sebagai belive system (sistem kepercayaan) mengandung unsur
kepentingan, tujuan, dan cita-cita.
Di Negara-negara Eropa muncul berbagai paham-paham besar sebagai
akibat dari adanya Revolusi industri dan Revolusi Perancis. Paham-paham itulah
yang masuk dan berpengaruh terhadap kesadaran kebangsaan negara-negara yang ada
di Afrika dan Asia termasuk Indonesia. Pada dasarnya paham-paham tersebut
berusaha menentang imprealisme dan kolonialisme penjajahan.
Salah satu alasan kolonialisme dan imprealisime ditanah jajahan
adalah alasan perdagangan. Disamping itu penjajah juga mengeruk kekayaan negara
terjajah. Tampaknya situasi kolonial sebagai akar dari segala keterbelakangan
diterima dan tidak dipersoalkan, meskipun ketimpangan sosial mengundang kecaman
umum yang keras aksi ataupun protes. Setelah sekian lama bahkan berabad-abad
bangsa Indonesia dimanfaatkan oleh Belanda baik secara moril maupun materil.
Terjadi berbagai penindasan yang sangat merugikan rakyat Indonesia. Hal
tersebutlah yang menyebabkan bangsa Indonesia mulai memberontak. Munculah
kesadaran kebangsaan untuk melawan penjajahan.
Beberapa paham besar yang berkembang di Eropa yang menyebar
keseluruh dunia termasuk Indonesia.
Paham-paham ini adalah Nasionalisme, Liberalisme, dan Sosialisme.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, permasalahn yang di
angakat dalam makalah ini sebagai berikut:
1)
Bagaimana
latar belakang lahirnya dan perkembangan paham - paham besar di Eropa ?
2)
Bagaimana
latar belakang paham-paham besar di Eropa masuk ke Indonesia ?
3)
Bagaimana
pengaruh paham-paham Eropa di Indonesia ?
1.3
Tujuan Penulisan
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan perumusan makalah ini antara lain sebagai
berikut:
1)
Untuk
mengetahui bagaimana latar belakang lahir dan perkembangan paham - paham besar
di Eropa.
2)
Untuk
mengetahui bagaimana latar belakang paham-paham besar di Eropa masuk ke
Indonesia.
3)
Untuk
mengetahui pengaruh paham-paham Eropa di Indonesia.
BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Latar Belakang Lahirnya dan Perkembangan Paham-Paham Besar di
Eropa
Di Eropa muncul paham-paham baru sebagai akibat dari terjadinya
Revolusi Industri dan Revolusi Prancis. Paham-paham itu, antara lain
nasioanalisme, liberalisme, sosialisme. Paham atau sama dengan ideologi.
Ideologi atau paham itu sendiri adalah sebuah sistem atau gagasan yang secara
normatik memberikan persepsi, landasan, dan pedoman tingkah laku seorang atau
masyarakat dalam kehidupan bermasyarat, berbangsa dan bernegara guna mencapai
tujuan yang di cita-citakan. Ideologi atau paham sebagai belive system (sistem
kepercayaan) mengandung unsur kepentingan, tujuan, dan cita-cita.
Urayan tentang muncul dan berkembangnya paham-paham di Eropa diantaranya sebagai berikut :
1.
Paham
Nasionalisme
Nasionalisme berasal dari kata nasional atau nation (bahasa
Inggris) atau natie (bahasa Belanda) yang artinya bangsa. Nasional artinya
kebangsaan. Bangsa adalah sekelompok manusia yang diam di wilayah tertentu dan
memiliki hasrat serta kemauan untuk bersatu, karena adanya persamaan nasib,
cita-cita dan tujuan.
Nasionalisme dapat diartikan semangat kebangsaan, yaitu semangat
cinta kepada bangsa dan negara. Suatu paham yang menyadarkan harga diri suatu
kelompok masyarakat sebagai suatu bangsa.
Sebab lahirnya nasionalisme adalah penaklukan negara bangsa lain
oleh negara tertentu yang mengakibatkan kesengsaraan bagi masyarakat negara
bangsa yang ditaklukan. Oleh sebab itu, nasionalisme sering diasosiasikan
sebagai ekspansinisme, imperialisme, dan peperangan.
Timbulnya nasionalisme karena kombinasi dua factor yaitu factor
subjektif dan objektif. Faktor subjektif berupa kemauan, sentiment, aspirasi,
dll. Suhungan dengan hal itu ada beberapa batasan pengertian tentang
Nasionalisme:
1)
Laporan
dari Royal Insituti of Internal mengatakan bahwa:
”a consciousness, on the part of individuals or groups, of
membership in a nation, whether one’s or another”
2)
Hans
Kohn, lebih cenderung mendifinisikan nasonalisme pada sentiment nasional, ia
mengatakan bahwa:
“a state of mind, meating the large majority of a people, and
claming to permeate all its members; its recognizes the nation state as the
ideal form of political organization and the nationality as the source of all
creative cultural energy and economic well being. The supreme loyality of man
is therefore to his nationality, as his own life is supposedly rooted in and
made possible by its welfare”
3)
Renan
menekankan Nasionalisme pada:
“Le sentiment de sacrifices” dan “le consentiment, le desir
clairement exprime de continu la vie commune” (Smith, 1983: 174)
Beberapa teori tentang bangsa yang disebut di atas cocok bagi
Indonesia adalah teori bedasarkan keinginan (wils). Semangat kebangsaan
yang merupakan “psychological state of mind” harus selalu dibangkitkan dan dihidupkan.
Karena itulah Nasionalisme Indonesia, seperti nasionalisme Negara-negara Asia Tenggara
lainnya mempunyai basis historis pada kolonialisme dengan politiknya dan
nasionalisme merupakan collective conscience untuk menghadapi kondisi
sosio-politik yang buruk, yaitu dengan jalan mengdakan reaksi sesuai dengan
kedudukan kelompok itu.
2.
Paham
Liberalisme
Liberalisme adalah suatu faham yang mengutamakan kemerdekaan
individu sebagai pangkal dan pokok dari kebaikan hidup. Menurut paham ini paham
ini masyarakat harus mengutamakan individu, karena masyarakat terdiri atas
individu dan terbentuk sebagai akibat adanya individu. Oleh karena itu yang
terpenting adalah hidup ini individu.
Mula-mula paham ini berkembang di Eropa dengan kaum borjuis atau
warga kota sebagai pendukungnya. Mereka berasal dari berbagai daerah atau
bangsa, karena itu tidak memiliki ikatan kekeluargaan dan adat kebiasaan.
Kehidupan masyarakat kota yang bebas dank eras makin mendorong mereka hanya
memikirkan keperluan sendiri dan bersaing satu sama lain. Peranan kaum borjuis
ini semakin penting setelah dan perdagangan menjadi mata pencaharian yang
penting.
Pada hakekatnya paham liberal timbul sebagai reaksi terhadap
penindasan yang dilakukan oleh kaum bangsawan dan kaum agama di zaman absolute
monarki, dimana setiap orang harus tunduk kepada kekuasaan bangsawan dan agama.
Dengan adanya kekangan tersebut orang-orang ingin melepaskan diri dan
memperjuangkan kemerdekaan individu. Usaha untuk memperjuangkan kebebasan ini
terjadi di beberapa Negara.
Perjuangan paham liberal terutama dalam bidang politik meletus pula
dalam peristiwa besar yang kita kenal dngan istilah Revolsi Perancis. Peristiwa
ini merupakan bukti kemenangan kaum liberal dalam memperjuangkan kebebasannya.
Hal ini disamping Nampak dalam semboyan, yaitu “Liberte, Egalite, Fraternite”,
juga Nampak dalam pernyataan hak-hak manusia yang diumumkan pada tanggal 27
Agustus 1789 dengan nama “Declaration des droits de I’ home et du citoyen”
(pernyataan hak-hak manusia dan warga negara).
Deklarasi ini antara lain memuat:
1)
Persamaaan
hak dalam lapangan politik dan sosial bagi setiap warga Negara;
2)
Penghormatan
akan hak milik;
3)
Kedaulatan
bangsa Negara yang bersumber pada rakyat;
4)
Kebebasan
bertindak asal tidak merugikan oang lain;
5)
Kemerdekaan
berbicara dan pers;
6)
Pembagian
pajak yang sama yang ditetapkan oleh wakil-wakil rakyat secara bebas;
7)
Penghormatan
akan pendirian, kepercayaan dan agama.
Hak-hak manusia dan warga Negara ini merupakan salah satu dasar
bagi tumbuhnya nasionalisme di Eropa. Dengan adanya hak-hak manusia dan warga
Negara, maka hapuslah hak-hak istimewa yang dimiliki oleh raja, golongan
bangsawan dan gereja. Dalam revolusi ini tampil golongan baru yaitu golongan
III yang terdiri dari kaum pedagang, pengusaha, dan orang-orang terkemuka dalam
masyarakat.
3.
Paham
Sosialisme
Sosialisme sebagai suatu paham (gerakan) yang menghendaki suatu
masyarakat disusun secara kolektif dengan tujuan mencapai masyarakat yang
bahagia. Jadi paham ini titik beratnya pada masyarakat, bukan pada individu.
Tokoh pemikir sosialisme adalah Robert Owen, seorang pengusaha
Inggris yang menulis buku A New of
Society an Essay on the Formation of Human Character. Ia adalah orang yang
pertama menggunakan istilah sosialisme.
Seorang yang dikenal sebagai Bapak Sosialisme adalah Karl Marx
dalam tulisannya Das Kapital yang mengatakan bahwa sejarah masyarakat merupakan
perjuangan-perjuangan kelas, semboyan mereka "bersatulah kaum proletar
sedunia." Titik berat dari paham ini adalah pada masyarakat bukan
individu, dan dalam hal ini sosialisme merupakan lawan dari liberalisme.
Pada awalnya sosialisme muncul sebagai reaksi atas liberalisme abad
ke-19. Pendukung liberalisme adalah kelas menengah (middle class), yang oleh
Karl Marx disebut kaum “borjuis”. Kelas menengah ini adalah memiliki industri,
perdagangan dan memiliki pengaruh dalam masyarakat dan pemerintah.
Ketertindasan kaum buruh oleh para pemilik modal (kapital) menimbulkan reaksi
golongan kelas menengah, yang sampai sekarang dikenal dengan istilah gerakan
sosialisme. Tujuannya menghilangkan pertentangan antar kelas, kelas buruh dan
pemodal.
Ajaran Karl Marx yang kemudian dikenal dengan Marxisme atau
Komunisme. Sosialisme merupakan tahap awal dari komunisme, suatu tahap pada
masa yang akan datang atau kemudian menjadi komunisme penuh (full communism).
Komunisme inilah yang bertumpu pada ajaran Marxisme.
2.2
Latar Belakang Paham - Paham Besar di Eropa Masuk ke Indonesia
Hal yang melatar belakangi paham-paham
Eropa dapat masuk di Indonesia adalah yaitu:
1. Peranan Pendidikan
Latar belakang masuknya paham-paham besar dari Eropa ke Indonesia
yaitu adanya Perkembangan Pendidikan di Indonesia. Dimana perkembangan
pendidikan membawa penduduk pribumi Indonesia dapat perluasan pengatahuan
tentang dunia luar yang belum mereka ketahui sebelumnya.
Perkembangan pendidikan di Indonesia terjadi sejak adanya Politik Etis,
yang timbul akibat sehubungan dengan adanya tragedi kemiskinan rakyat Indonesia
pada abad ke-19 yang kemudian memunculkan kritikan tajam yang diancarkan oleh
orang-orang Belanda yang berbudi tinggi. Mereka meminta pemerintah kolonial
Belanda untuk melakukan progam Politik Etis. Hal ini perlu dilaksanan di tanah
jajahan dalam rangka membalas budi kebaikan rakyatnya. Caranya dengan membantu
meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan rakyat jajahan. Progam peningkatan
kesejahteraan dan balas budi tersebut disebut Trias Politika yang meliputi
bidang irigas, emigrasi dan edukasi.
Di bidang edukasi atau pendidikan diberikan untuk meningkatkan
pendidikan di Indonesia. Pendirian-pendirian sekolah dilaksanakan masih dengan
setengah hati oleh pemerintah Belanda, yang hanya bertujuan untuk kepentingan
Belanda dan kelancaran pernjajahan di Indonesia saja. Semua kegiatan di bidang
pendidikan di awasi dan di kontrol oleh pemerintah Belanda.
2.
Peranan Pers Indonesia
Pada abad ke-19, pers masuk ke wilayah
Indonesia dan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan kota-kota di
Indonesia. Wujud perkembangan pers itu dalam bentuk surat kabar ataupun majalah.
Munculnya surat kabar dimodali oleh orang-orang Cina dengan menggunakan bahasa
Melayu. Derngan demikian, surat kabar yang diterbitkan secara tidak langsung
ikut serta di dalam mempopulerkan penggunaan bahasa Melayu. Surat kabar juga
memuat isu-isu politik yang sedang berkembang, sehingga secara tidak langsung
telah banyak memberikan pendidikan politik pada masyarakat Indonesia. Surat
kabar berbahasa Melayu berkembang sejak awal abad ke-20, antara lain sebagai
berikut.
a.
Sumatra: Sinar Soematra, Tjahaja Soematra, Pemberita
Atjeh, Pertja Barat.
b.
Jawa: Bromantani, Pewarta Soerabaja, Kabar Perniagaan,
Pemberitaan Betawi, Pewarta Hindia, Bintang Pagi, Sinar Djawa, Hampaet, Melayu,
Poetera Hindia.
c.
Kalimantan: Pewarta Borneo.
d.
Sulawesi: Pewarta Manado.
Pers
mempunyai kekuatan untuk membangkitkan kesadaran bersama mengenai kepentingan
umum, seperti keamanan, kesejahteraan, kemasyarakatan, dan ketatanegaraan. Pers
mempunyai peranan penting dalam menjalankan pendidikan politik bagi kaum
bumiputra. Malalui pers, apa yang terjadi dipanggung politik dunia mulai
dipentaskan kepada umum di Indonesia. Berita-berita luar negeri menambah pengetahuan
dan kesadaran politik para pembacanya. Hal ini akan membangkitkan kecenderungan
untuk membandingkan situasi politik luar negeri dengan dalam negeri. Pada
akhirnya muncul pemikiran dan pemandangan kritis terhadap lingkungan politik
dalam segala hal masih didominasi oleh penguasa kolonial.
Peran media :
a) Melalui surat kabar terdapat pendidikan
politik, sebab melalui surat kabar tersebut ternyata dimuat isu-isu mengenai
masalah politik yang sedang berkembang sehingga secara tidak langsung melalui
surat kabar tersebut telah memberikan pendidikan politik kepada masyarakat
Indonesia.
b) Melalui Surat kabar atau majalah mempunyai
fungsi sosial dasar yaitu memperluas pengetahuan bagi para pembacanya dan dapat
membentuk pendapat (opini) umum.
c) Pendidikan sosial politik dapat disalurkan
melalui tulisan-tulisan di surat kabar dan media masa sehingga menumbuhkan
pemikiran dan pandangan kritis pembaca yang dapat membangkitkan kesadaran
bersama bagi bangsa Indonesia.
d) Surat kabar merupakan media komunikasi
cetak yang paling potensial untuk memuat berita, wawasan dan polemik (tukar
pikiran melalui surat kabar), bahkan ide dan pemikiran secara struktural dapat
dikomunikasikan kepada masyarakat luas.
e) Meskipun pada masa itu ruang gerak pers
dibatasi dan dikontrol ketat oleh pemerintah kolonial. Tetapi melalui surat
kabar tersebut sebagai sarana untuk menyampaikan segala sesuatu yang
dikehendaki dan diprogramkan oleh pemerintah sehingga sedapat mungkin bisa
diinformasikan kepada masyarakat luar. Dimana pemberitahuannya lebih memihak
pada pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Surat kabar mempunyai fungsi sosial dasar,
yaitu memperluas pengetahuan bagi para pembacanya dan dapat membentuk opini
umum. Akan tetapi, ruang gerak persuratkabaran pada zaman kolonial Belanda
dibatasi dan dikontrol ketat. Selain surat kabar yang membawa suara
nasionalisme, terbit surat kabar yang merupakan pembawa suara pemerintah
kolonial Hindia Belanda, seperti
Pantjaran Warta dan Bentara Hindia di Jakarta, Sinar Matahari di
Makassar, dan Medan Priyayi di Bandung.
Pada masa pergerakan nasional, pers (surat
kabar dan majalah) merupakan media informasi dan komunikasi yang sangat penting
dan efektif. Pada mulanya, surat kabar dan majalah digunakan oleh orang-orang
Belanda dan Cina. Tujuan penerbitannya pun terbatas untuk kepentingan mereka.
Waktu itu kebebasan pers dibatasi oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda.
Sekalipun demikian, di kalangan pers Melayu-Cina sudah mulai ada berita-berita
yang bersifat politik. Cita-cita pergerakan nasional Cina diawali oleh Dr. Sun
Yat Sen, misalnya telah banyak diketahui golongan terpelajar Indonesia.
Surat kabar berbahasa Melayu yang terbit di
Sumatera, di antaranya Sinar Soematra, Tjahaya Soematra, Pemberita Atjeh, dan
Pertja Barat. Surat kabar yang terbit di Pulau Jawa, antara lain Bromantani,
Pewarta Hindia, Bintang Pagi, Sinar Djawa, Terompet Melajoe, dan Putra Hindia.
Surat kabar yang terbit di Kalimantan yaitu Pewerta Menado. Timbulnya kesadaran
dan identitas kebangasan Indonesia ditandai oleh didirikannya organisasi
kebangsaan, seperti Budi Utomo, Sarikat Islam, Indische Partij, PNI, dan sebagainya.
Organisasi- organisasi kebangsaan masing-masing memiliki surat kabar sendiri.
Kaum terpelajar dan majalah telah mendidik dan menyadarkan semangat kebangsaan
Indonesia. Organisasi-organisasi kebangsaan yang memiliki surat kabar antara
lain:
a. Budi Utomo menerbitkan surat kabar Darmo
Kando.
b. Sarikat Islam menerbitkan surat kabar
Oetoesan Hindia.
c. Perhimpulan Indonesia menebitkan surat
kabar Indonesia Merdeka.
d. Indische Partij menerbitkan surat kabar Het
Tijschrift dan de Expres.
Melalui media pers tokoh-tokoh kaum
pergerakan nasional dapat saling berkomunikasi, aspirasi rakyat Indonesia terus
bergelora. Jelaskan peranan dan kontribusi pers pada masa pergerakan nasional
sangat menentukan bagi terbentuknya identitas kebangsaan Indonesia. Pada waktu
itu, pers telah tampil sebagai alat perjuangan dalam merintis kemerdekaan
bangsa dan negara Indonesia
Untuk mengimbangi peredaran surat kabar dan
majalah, kaum pergerakan nasional, pemerintahan kolonial Hindia-Belanda
kemudian mendirikan badan penerbitan yang diberi nama Balai Pustaka.
Diterbitkanlah buku-buku yang bersifat netral untuk mebelokkan perhatian rakyat
Indonesia agartidak menyenangi artikel-artikel yang ditulis kaum pergerakan.
Sekalipun demikian tokoh-tokoh kaum pergerakan tetap aktif menyuarakan
perjuangan kemerdekaan. Melalui tulisan-tulisan mereka itulah kebangsaan tumbuh
di kalangan rakyat Indonesia melalui pers bangsa Indonesia dididik berpolitik
dan dibangkitkan semangat kebangsaannya. Pada waktu itu, surat kabar dan
majalah merupakan media pendidikan. Itulah sebabnya pers pada masa pergerakan
nasional disebut pers perjuangan.
2.3
Pengaruh Paham-Paham Eropa di Indonesia
Pengaruh paham-paham besar terhadap kesadaran kebangsaan Indonesia.
Dengan adanya paham -paham tersebut mendorong rakyat indonesia sadar akan
perasaan kebangasaan. Kemudian hal tersebut di implementasikan dalam
pembentukan organisasi-organisasi pergerakan-pergerakan nasional untuk melawan
penjajah.
Pengaruh paham nasionalisme di Indonesia ditandai dengan muncul
berbagai gerakan nasioanal di Indonesia yang bertujuan untuk mencapai
kemerdekaan
Tahapan perkembangan nasionalisme Indonesia
adalah sebagai berikut.
1. Periode Awal Perkembangan
Dalam periode ini gerakan nasionalisme
diwarnai dengan perjuangan untuk memperbaiki situasi sosial dan budaya.
Organisasi yang muncul pada periode ini adalah Budi Utomo, Sarekat Dagang
Indonesia, Sarekat Islam, dan Muhammadiyah.
2. Periode Nasionalisme Politik
Periode ini, gerakan nasionalisme di
Indonesia mulai bergerak dalam bidang politik untuk mencapai kemerdekaan
Indonesia. Organisasi yang muncul pada periode ini adalah Indische Partij dan
Gerakan Pemuda.
3. Periode Radikal
Dalam periode ini, gerakan nasionalisme di
Indonesia ditujukan untuk mencapai kemerdekaan baik itu secara kooperatif
maupun non kooperatif (tidak mau bekerjasama dengan penjajah). Organisasi yang
bergerak secara non kooperatif, seperti Perhimpunan Indonesia, PKI, PNI.
4. Periode Bertahan
Periode ini, gerakan nasionalisme di
Indonesia lebih bersikap moderat dan penuh pertimbangan. Diwarnai dengan sikap
pemerintah Belanda yang sangat reaktif sehingga organisasi-organisasi
pergerakan lebih berorientasi bertahan agar tidak dibubarkan pemerintah
Belanda. Organisasi dan gerakan yang berkembang pada periode ini adalah
Parindra, GAPI, Gerindo.
Dari perkembangan nasionalisme tersebut
akhirnya mampu menggalang semangat persatuan dan cita-cita kemerdekaan sebagai
bangsa Indonesia yang bersatu dari berbagai suku di Indonesia. Nasionalisme
adalah rasa luhur yang dimiliki bangsa Indonesia, cerminan dari komitmen yang
pernah diikrarkan berpuluh-puluh tahun lampau, bertolak dari rasa persaudaraan,
senasib sepenanggungan.
Paham liberalisme di Indonesia melahirkan keuntungan tersendiri,
yaitu adanya Politik Etis. Dimana hal itu kemudian membuat terjadinya perkembanagan
pendidikan, seperti pendirian sekolah-sekolah untuk penduduk pribumi Indonesia.
Penduduk pribumi Indonesia pun memiliki pengetahuan tentang betapa belenggu
penjajahan selama ini mengekang semua aktivitas penduduk pribumi, hal itu
akhirnya juga memunculkan perasaan kesadaran kebangsaan penduduk pribumi
Indonesia.
Paham sosialisme merupakan tahap awal dari komunisme. Di Indonesia paham
komunisme diperkenalkan oleh Sneeveliet seorang pegawai perkereta-apian yang
berkebangsaan Belanda. Paham komunisme diwujudkan dalam
pembentukan organisasi yang bernama Indische Social Democratis The Vereeninging
(ISDV). Pada
tanggal 23 Mei 1920 ISDV merubah namanya menjadi Partai Komumunist Hindia yang
pada bulan Desember tahun yang sama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).
Organisasi ini adalah organisasi yang bersifat non-kooperatif terhadap
pemerintahan kolonial Belanda. Organisasi ini bersifat juga radikal dengan
mnginginkan Indonesia merdeka.
Dengan lahirnya paham-paham besar di Eropa
tersebut mendorong rakyat Indonesia sadar
akan rasa kebangsaan. Mereka harus bersatu untuk melawan para penjajah yang
telah memberikan berbagai penderitaan. Rasa kebangsaan tersebut
diimplemntasikan dengan pembentukan organisasi yang bergerak mentang penjajah
dan menuntut Indonesia merdeka.
BAB III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Di Eropa muncul paham-paham baru sebagai akibat dari terjadinya
Revolusi Industri dan Revolusi Prancis. Paham-paham itu, antara lain
nasioanalisme, liberalisme, sosialisme dan demokrasi..
Urayan tentang muncul dan berkembangnya paham-paham di Eropa diantaranya sebagai berikut :
1.
Paham
Nasionalisme
Nasionalisme berasal dari kata nasional atau nation (bahasa
Inggris) atau natie (bahasa Belanda) yang artinya bangsa. Nasional artinya
kebangsaan. Bangsa adalah sekelompok manusia yang diam di wilayah tertentu dan
memiliki hasrat serta kemauan untuk bersatu, karena adanya persamaan nasib,
cita-cita dan tujuan.
Tahapan perkembangan nasionalisme Indonesia
adalah sebagai berikut.
1) Periode Awal Perkembangan
2) Periode Nasionalisme Politik
3) Periode Radikal
4) Periode Bertahan
2. Paham Liberalisme
Liberalisme adalah suatu faham yang mengutamakan kemerdekaan
individu sebagai pangkal dan pokok dari kebaikan hidup. Menurut paham ini paham
ini masyarakat harus mengutamakan individu, karena masyarakat terdiri atas
individu dan terbentuk sebagai akibat adanya individu. Oleh karena itu yang
terpenting adalah hidup ini individu.
Paham liberalisme di Indonesia melahirkan keuntungan tersendiri,
yaitu adanya Politik Etis. Dimana hal itu kemudian membuat terjadinya
perkembanagan pendidikan, seperti pendirian sekolah-sekolah untuk penduduk
pribumi Indonesia. Penduduk pribumi Indonesia pun memiliki pengetahuan tentang
betapa belenggu penjajahan selama ini mengekang semua aktivitas penduduk pribumi,
hal itu akhirnya juga memunculkan perasaan kesadaran kebangsaan penduduk
pribumi Indonesia.
3.
Paham
Sosialisme
Sosialisme sebagai suatu paham (gerakan) yang menghendaki suatu
masyarakat disusun secara kolektif dengan tujuan mencapai masyarakat yang bahagia.
Jadi paham ini titik beratnya pada masyarakat, bukan pada individu.
Paham sosialisme merupakan tahap awal dari komunisme. Di Indonesia paham
komunisme diperkenalkan oleh Sneeveliet seorang pegawai perkereta-apian yang
berkebangsaan Belanda.
DAFTAR PUSTAKA
Daeng Materu, Mohammad Sidky. 1985. Sejarah Pergerakan Nasional Bangsa Indonesia.
Jakarta : PT. Gungung Agung
Suhartono. 1994, Sejarah Pergerakan Nasional, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Suparno, Dwi.
1988, Paham-paham Besar Sejarah tentang Feodalisme, Liberalisme,
Kapitalisme, dan Imperialisme, Jember: Universitas Jember
makasih yah
BalasHapus